Rabu, 15 Juli 2020
2 Komentar
Rabu, 15 Juli 2020
Sebelum beranjak, ku ambil handphone terlebih dahulu. Kulihat ada beberapa pesan WA yang belum terbaca, sekitar 20 pesan entah itu isinya apa. Tak kubaca dulu, dan kusimpan kembali. Dengan perasaan malas ku pergi ke kamar mandi yang sekitar 10 meter dari kamar tidur, dan berrrr….air yang terasa seperti air es masuk ke dalam pori-pori kulitku. Bibirpun sedikit gemetar menahan dingin. Dengan cepat ku cari handuk dan mengeringkannya.
Kuambil mukena merah maroon hadiah nenek dari ibu yang sekitar setahun lalu pergi umroh, dengan sajadah warna crem yang menjadi mahar pernikahanku tahun 2008 silam. Yaaa…sudah 12 tahun berlalu, namun sajadah itu masih sangat layak bahkan masih cukup bagus, tak ada jahitan yang rusak semuanya nampak masih sangat baru. Begitupun mukena putih sebagai pendampingnyapun masih sangat kujaga, tersimpan rapih di lemari yang sesekali ku pakai.
Dua rakaat berlalu sudah, tahlil dan tahmid sebisanya kulantunkan. Tak ada bacaan doa yang khusus ku baca, maklum aku bukan anak pesantren. Bukan tak mau sebenarnya mencari ilmu di pesantren sambil sekolah seperti kebanyakan orang. Tapi pada saat itu kebetulan bapak sudah berhenti bekerja karena moneter, ketika anak-anaknya masih butuh biaya untuk sekolah bapak kena PHK, tahun yang menurutku sungguh memilukan, masih kuingat tahun 1998 pada saat itu. Tahun itu memaksa ibu untuk berjualan nasi uduk di Sekolah dasar, yang kebetulan berlokasi depan rumah. Namun bapak tak berpangku tangan. Diapun berusaha berkerja sebisanya, kadang pergi ke kebun untuk menanam apapun yang dia bisa, kadang ada orang yang menyuruhnya untuk bekerja, dan apapun itu. Bapak tetap nampak mempesona dengan tanggung jawabnya dimataku.
Bapak bukan orang pekerja seperti kebanyakan orang, dia adalah anak seorang Jendral di Kota Serang, anak seorang pejuang, pahlawan pada masa kemerdekaan RI. H. Abdullah Abdurahman adalah nama jalan yang sekarang dipakai di daerah kaujon Serang, sebagai bukti beliau adalah pahlawan. Dibesarkan di keluarga berada membuat bapak tak bisa apapun, bahkan bertani pun tak bisa. Namun ternyata keturunan bukan alasan seseorang bisa sukses dan kaya raya, mungkin hanya 20% saja. Bapak tak dibekali warisan karena alm. Kakek terkenal dengan kedermawanannya. Tanah yang beliau punya tempo dulu banyak dibuat tempat tinggal untuk para anak buah yang tak memiliki rumah, beliau hanya dibekali sepetak tanah yang pada akhirnya oleh Bapak diwakafkan menjadi pemakaman keluarga. Namun karena kebaikan kakek, kami selalu dihargai ketika berkunjung ke serang khususnya daerah Kaujon dan Kaloran tempat kakek dimakamkan. Mereka selalu menyambut kami ketika kami sekali-kali bersilaturahmi untuk sekedar jiarah ke makam kakek.
Tak terasa kentongan menandakan subuhpun berbunyi, disetiap penjuru suara orang membaca doa bangun tidur terdengar. Yang kemudian bersholawat dengan khas nya masing-masing, tak lama adzanpun berkumandang, dan 2 rakaat kembali ditunaikan.
Rutinitaspun kembali, menghirup pagi dan bekerja. Mengais rejeki dan menggapai cita-cita.
Salam penulis, salam literasi !!!
Posted by 
Aamiin. Mari kita jemput rezeki kita dgn semangat 45
BalasHapusAlhamdllah...aamiin..semangat bapak..terimkasih atas bimbingannya..trimkasih sudah diikutsertakan dengan orang2 hebat๐๐
Hapus