Banjir Bandang yang Terkenang

Banjir Bandang yang Terkenang
Sabtu, 18 Juli 2020

Tahun baru adalah harapan baru bagi setiap orang. Harapan agar cita-citanya tercapai, harapan semua doa terkabul dan harapan menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun tahun baru 2020 menyisakan pilu yang tak akan pernah terlupakan, kenangan pahit dan trauma yang mendalam.

7 hari menjelang tahun baru 2020 kami sekeluarga bersilaturahmi ke sanak saudara yang di luar kota dan banyak menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama keluarga hanya dengan makan bersama, atau bahkan cuma sekedar minum teh bersama. Hari-hari itu adalah libur panjang setelah semester ganjil berakhir.

Malam Rabu, 31 Desember 2019 setelah solat magrib berjamaah dan kemudian mengaji bersama anak-anak kami makan malam seperti biasa, lalu menghabiskan malam dengan nongkrong sebntar di halaman. Tanpa perayaan malam tahun baru seperti tahun –tahun sebelumnya, karena bagi kami tak ada yang harus dirayakan, tak ada yang harus di spesialkan. Tetapi kami bersyukuri masih bisa menatap langit mendung malam itu.

Yaa..dari sore hari terlihat langit begitu mendung entah hujan disebelah mana, yang jelas nampak gelap di daerah pegunungan. Pukul 21.00 WIB gerimis mulai mengiringi malam pergantian tahun, kami tertidur pulas tanpa memikirkan apapun. Tepat 04.30 WIB aku terbangun, seperti biasa setelah selesai solat subuh dilanjutkan dengan pekerjaan rumah dan membuat sarapan, anak-anak dan suami masih tertidur pulas. Sementara gemercik hujan masih terus menemani kami sampai kembali pagi.

Masih dengan daster dan kerudung instan ku coba membersihkan teras yang kotor karena percikan air hujan. Neng..neng…neng..neng..neng..neng tukang bubur ayam melewati depan rumah. Lalu dengan santai dia berkata..”cai gede ( sungai airnya naik) “..oo..iyah..dengan santuy pula aku menjawabnya karena memang daerah kami dekat sungai sekitar 1KM jaraknya.

Sungai Ciberang adalah nama salah satu sungai di Kecamatan Cipanas Kabupaten Lebak – Banten yang lumayan memiliki kawasan cukup lebar dan panjang, yang bermuara di Bendungan Karian Rangkasbitung. Lagi-lagi ada yang berkata “ Nia ciberang gede amat sieun ih, tempo geh ka tukang “ ( Nia Sungai Ciberang Naik airnya, takut ih. Liat sana ke belakang ) paman yang rumah nya bersebelehan denganku berkata demikian. Karena memang belakang rumah adalah sawah yang berujung Sungai Ciberang.

Tepat pukul 07.00 WIB dengan rasa penasaran aku pergi ke belakang, sampai pada pohon kelapa yang berjajar 5 pohon aku berdiri, kepalaku menoleh ke kanan untuk melihat kondisi sungai tersebut. Dengan mata terbelalak dan kaget, aku melihat gulungan air coklat yang tinggi sekitar 3 meter menuju kearahku. Aku masih terdiam dan tak bereaksi, masih kulihat gulungan air coklat itu terus mendekat bagaikan ombak laut. Lalu aku berteriak “ emaaaaaa banjiiiirrrr” ( mamah Banjiir ), sawah banjir”. Sepertinya emak sedang mencuci piring karena aku mendengar suara sesuatu terlempar, dan lari ke arahku “Astagfirullah” ucap emak. Dalam hitungan detik beberapa petak sawah belakang tertutup oleh banjir bandang yang masih membingungkan. Tiba-tiba suara kentongan dan speaker dari berbagai tempat bersahutan..banjiiir..banjiirrr…. keluar rumah..banjir..banjir…semuanya ngungsi ke tempat tinggi…semuanya saling bersahutan membuat bingung orang-orang yang pagi itu mungkin masih banyak yang masih terlelap setelah menghabiskan malam tahun baru. Begitupun suami dan anak-anak yang masih tertidur pulas.


Pak, de, bangun,,banjir di belakang,,ayo bangun..ucapku dengan keras, sembari segala yang bisa kurapihkan aku bungkus dengan seprei dan selimut lalu ku bawa ke lantai atas..air semakin tinggi, sudah hampir teras rumah, aku pikir tak akan sampai ke rumah karena menurut logika mana mungkin air bisa naik kesini karena ini atas sekali. Ternyata air memiliki caranya sendiri. Semua warga pergi mengungsi ke Sekolah dasar yang berada di depan yang areanya lebih tinggi..semuanya melihat dari sana. 5 rumah dekat sawah sudah terlihat hanyut, begitupun dengan gudang gas elpiji dan puluhan karung cengkeh harga puluhan juta ikut habis. Air coklat yang menakutkan itu semakin tinggi, rumahku telah 1 meter terlihat terendam, bunga-bunga yang kurawat terlihat sudah hilang pula. Bibirku tak sanggup berkata, sinyal handphone mulai menghilang, tak bisa kuhubungi siapapun. Akses jalan semua diterjang banjir, tak ada yang bisa menolong kami saat itu, kami hanya duduk dengan basah kuyup karena gerimis tak kunjung berhenti. Ku lihat Apa dan Ema ( ayah dan ibu ) nampak kaget dan tubuhnya bergetar, maklum mereka sudah cukup sepuh. Kucoba menenangkan mereka yang sebenarnya aku sendiri tak mampu menopang lututku yang masih gemetar. Pukul 10.00 WIB air mulai surut, yang nampak hanya lumpur dan pasir juga barang-barang aneh yang terbawa banjir. Bantuan mulai berdatangan karena jalan yang diterjang banjir masih bisa dilewati walaupun rusak parah dan penuh lumpur. Beberapa orang banyak membantu membersihkan rumah, kulihat barang-barang elektronik berserakan di segala penjuru Tv, kulkas, mesin cuci, kipas angin semuanya penuh lumpur. Baju kerja dan seragam sekolah anak-anak habis. Yang tersisa hanya bagian atas. Rasanya ingin kumenangis, tapi apalah daya ini sudah terjadi. Dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menormalkan kembali situasi dan keadaan lokasi. Karena ternyata banjir bandang ini menghantam hampir 10 kecamatan yang memiliki jalur yang sama dengan aliran sungai tersebut. Berpusat di Gunungan Halimun yang terjadi longsor luar biasa, membuat tahun baru kami penuh duka.

Bencana yang tak pernah terjadi sebelumnya, bahkan disebutkan dalam sejarah para orangtua tempo dulu, tak pernah ada banjir bandang sedahsyat ini. Dan ini terjadi pada tahun 2020.

Ternyata tak ada yang tak mungkin di dunia ini, bahkan hal yang dianggap mustahil bagi logika kita itu bisa terjadi atas kehendakNya. 6 bulan sudah berlalu namun traumanya belum bisa hilang, setiap kali hujan turun kami tak bisa tidur nyenyak. Pergi ke atas dan menatap sungai menakutkan itu, berharap dia tidak mengamuk lagi. Sungai yang dulunya jernih, tempat segala manusia melakukan rutinitas mencuci, menyiram tanaman, mengambil pasir, dan keceriaan anak-anak ketika menikmati renang gratis. Dalam hitungan menit, sungai itu berubah. Dia sekarang berwarna coklat dan nampak menakutkan bagiku.

Jagalah alam kita, jagalah bumi kita untuk anak cucu kita…
Salam penulis, salam literasi !!!

Open Comment
Close Comment

8 Komentar untuk "Banjir Bandang yang Terkenang"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel