Jumat, 17 Juli 2020
4 Komentar
Jumat, 17 Juli 2020
Hampir 4 bulan sudah aku tak bisa ke luar daerah untuk sekedar refreshing. Bahkan beda kecamatan saja rasanya sungguh mengerikan. Efek Covid-19 ini membuat otakku kadang mumet dan beku. Sebenarnya hanya untuk cuci mata saja mungkin di sekitar tempat tinggalku tersedia, namun korona ini kadang membuat aku takut untuk bertemu orang-orang yang sebagain besar hilir mudik dari perkotaan. Sungguh parno rasanya..huffff..
Pukul 22.09 WIB malam minggu handphone ku berbunyi, notifikasi WA ternyata . Dan sungguh mengejutkan senior di tempat kerja mengajak untuk pergi besok, ke Destinasi Wisata Baduy, yaa..Baduy adalah salah satu wisata adat yang terkenal di Kabupaten Lebak. Tradisinya yang mengagumkan dan pesona keasriannya yang membuat orang-orang kangen untuk datang kembali.
Minggu, 28 Juni 2020 tepat pukul 06.00 WIB kami bersiap dengan segala bekal. Sejenak, tak kuhiraukan si Covid-19, aku sudah terlalu muak padanya..hehe..dengan bermodalkan masker dan handsanitizer tentunya dengan doa yang tak henti semoga kami dijauhkan dari virus tersebut. Pukul 07.30 WIB kami berangkat dengan menggunakan motor, suasana yang sejuk dan aroma pagi yang cukup segar terasa, jalan menuju daerah Baduy memang jauh dari keriuhan seperti d Kota. Karena kami menyusuri hutan-hutan yang masih sangat rindang, hutan pinus, hutan mahoni, dan hutan jati, sungai-sungai yang masih asri tanpa polusi. Yaaa..suasana yang cukup lama tidak kami rasakan beberapa bulan ini, karena Lockdown dan sibuk dengan daring bersama anak didik.
“Selamat Datang di Kawasan Wisata Adat Baduy” tulisan itu menandakan bahwa kami telah sampai. Disambut dengan patung khas selamat datang di daerah Ciboleger adalah pengalaman pertama bagiku. Karena sebetulnya 32 tahun hidup di Kabupaten Lebak sungguh kali pertama aku menginjakkan kaki di daerah Baduy..hehe.
Tak sabar rasanya untuk segera memasuki susunan rumah khas itu yang sudah nampak dari bawah. Hanya karcis 5000,-/orang kita dapat menikmati wisata alam tersebut. Perlahan kami menikmati berbagai pemandangan disana, rumah yang saling berhadapan dengan khas dari bamboo tanpa aliran listrik dan elektronik, hanya handphone saja yang mereka pakai untuk alat komunikasi online.
Aneh memang, hidup tanpa media elektronik bahkan penerangan sekalipun mereka masih menggunakan lampu minyak. Itulah tradisi dan bukan merupakan keterasingan dari hiruk pikuk modernisasi. Sejenak aku penasaran dengan beberapa gadis cantik yang duduk diam di depan rumah sambil menjajakan kerajinan tangan khas mereka berupa tas koja, lomar, kain tenun Baduy, gelang Baduy, gantungan kunci dari akar, bahkan madu asli khas Baduy yang terkenal.
Berbincang sebentar dan bertanya tentang kehidupan mereka, bagaimana mereka bisa membaca dan menulis? Sedangkan dalam tradisi mereka sekolahpun tidak diperbolehkan. Dengan nada yang khas gadis bernama Siti itu menjawab” ieu mah bawaan lahir, teu sakola ja titah ulah, ai nu teu bisa mah loba, kami oge bisa maca mah tapi teu bisa nulismah” ( ini adalah bawaan lahir, kami tidak sekolah karena tidak diperbolehkan, banyak yang bisa baca dan menulis, saya sendiri bisa membaca tapi tak bisa menulis ) jawab Siti.
Tetap merasa aneh, bagaimana mungkin kita bisa membaca dan menulis sementara tidak ada proses belajar? Sungguh kembali kepada kebesaran sang pencipta, aku tak bisa memungkirinya, karena tak ada yang tak mungkin bagiNya.
Masih bertanya tentang satu hal yaitu handphone, mengapa disana ada alat komunikasi tersebut, bukankah elektronik yang lain tak diperbolehkan ? dengan ternganga aku mendengarkan cerita Siti, sungguh luar biasa ternyata mereka menggunakan HP untuk jual beli Online madu baduy yang mereka jual secara fantastic Rp. 150.000/botol. Luar biasa bukan. Tak belajar menulis juga membaca tapi mereka lihai dengan alat komunikasi tersebut. Bekerja sama dengan kurir JnT memudahkan mereka bertransaksi dengan pelanggan, tak segan-segan para kurir langsung mengambil pada mereka yang telah siap di pak dan dikirim.
Baduy ternyata memiliki 2 daerah yang berbeda, Baduy dalam dan Baduy luar. Dan kami hanya bisa memasuki Baduy luar saja karena 15 KM ke depan adalah menuju Baduy dalam, menanjak juga menurun membuat kami berfikir 1000 kali untuk melanjutkan rute tersebut..hehe.
Masih banyak tradisi dan khas daerah Baduy yang tak akan habis kita gali dalam lembaran cerita. Berjuta sejarah dan pesona alam yang tak akan hilang dimakan waktu, Baduy adalah peradaban dunia. Daerah tanpa perubahan karena mereka menjaga tradisi alam dari modernisasi dunia.
Penasaran dengan daerah Baduy, silahkan mampir ke Provinsi Banten.
Salam Penulis,,Salam Literasi !!!
Posted by 
Terimakasih sudah mengajak jalan jalan ke suku baduy
BalasHapusSama2 bu..alhamdllah trimkash sudah mampir🙏 mohon krtik dan sarannya😊
HapusSubhanallahenarik sekali Bu, sungguh indah dan kaya nian alam Indonesia....silakan mampir juga praptiprayitno.blogspot
BalasHapusTrimkash sudah mampir..siap 👍
Hapus