Harga untuk suamiku

Harga untuk suamiku
Minggu, 19 Juli 2020
Berapa aku harus membayarmu ? pikiran itu yang kerap muncul dari relung hatiku tiap kali kau pergi meninggalkanku dalam sunyinya malam. 

Mah, Papah kemana sih,,? Pagi-pagi sekali sudah pergi, Vina kan kangen papah. Ucap putri bungsuku. 
Papah pasti mancing sama temennya de, sahut Alif kakak laki-lakinya. Yaa…kata-kata itu yang kerap muncul dari kedua anakku. Mas Dimas memang memiliki hobby mancing dari dulu, dia bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk memancing bersama teman-temannya, dan malam hari dia habiskan bermain catur bersama bapak-bapak komplek sampai menjelang subuh sembari ronda. Itulah kegiatan yang dia lakukan setiap minggu ketika berada di rumah.

Mas Dimas memang bekerja di luar kota dan pulang hanya seminggu sekali. 10 tahun sudah usia pernikahan kami dan kegiatan mingguan itu Ia lakukan setiap kali pulang. Anak-anak tak pernah protes memang, hanya sekali-kali saja mereka kerap bertanya, dan akhirnya mereka sudah terbiasa dengan rutinitas Papahnya. Karena ketika hendak tidur Mas Dimas selalu mengajak mereka untuk sekedar berkeliling komplek dan membeli makanan kesukaan mereka. Dan mungkin itu cukup untuk anak-anak. 

Tak selamanya aku dapat memaklumi hal itu, dan 10 tahun aku selalu diam dan tak pernah berkomentar. Mas Dimas memang tak pernah macam-macam, dan dia melakukannya hanya untuk mengobati rasa suntuknya dari pekerjaan. Namun jujur hatiku selalu meronta dan menangis tiap kali dia meninggalkan kami yang masih sangat ingin bermain dan menghabiskan waktu bersamanya. Malam yang hanya sesaat, dan tak ada waktu khusus denganku. 

Meskipun begitu, aku berusaha memberikan yang terbaik. Apapun keperluan dia di rumah selalu berusaha aku siapkan, sarapan, makan siang, pakaian kerja dan lain-lain. Karena bagaimanapun, wanita berpendidikan tentu harus tau akan kewajibannya. Semua perasaan kesal aku tepis, aku simpan dalam-dalam. Dan tak pernah ada yang tau. Mas Dimas memang suami yang bertanggung jawab, karena dari sikapnya yang dingin dan cuek dia selalu memenuhi kebutuhan kami. 

Terkadang , Ingin rasanya aku berkata padanya, tentang kesepianku. Namun aku harus memaklumi dan berteman selamanya dengan kesendirian. Diam dan diam yang hanya bisa aku lakukan. Sampai terkadang hati kecilku berkata “ berapa aku harus membayarmu, hingga kau bisa menemaniku sepanjang hari dan sepanjang malam ? hingga bila kuterbangun di tengah malam, aku bisa melihatmu berbaring bersamaku. 

Salam penulis, salam literasi !!!

Open Comment
Close Comment

10 Komentar untuk "Harga untuk suamiku"

  1. Wah eta mah akooh bgt...๐Ÿ˜ƒ

    BalasHapus
  2. "Aduh-aduh Teteh mah gelies atuh", mhn maaf kalo ndak pas hehe
    *Bismillah*_....
    Mengambil perumpamaan yg sama dengan program listrik masuk desa tahun 1980 an,pada masa pandemi ini, masyarakat terutama dunia pendidikan sangat membutuhkan jaringan internet untuk PJJ... untuk selanjutnya baca *WIFI Masuk Desa* dilink bawah ini.

    *_Media Pembelajaran Blog_*
    Minggu, 19 Juli 2020, Postingan ke-425. Mohon doanya satu hari satu postingan di blog

    www.wifimasukdesaku

    BalasHapus
  3. Duuh, sabar ya Teh, ato cobi dikomunikasikan dg Mas nya..๐Ÿ™‚๐Ÿ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. ๐Ÿคญ hanya curahan hati tetangga bun๐Ÿ˜

      Hapus
  4. Sehat terus yah kkk buat keluarganya

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Trimkash..๐Ÿ™mash bnyak kekurangan pa..baru belajar..bnyak ketinggalan karena pembelajaran.daring dengan anak2๐Ÿคญ

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel